Impian

Dalam tengadah tangan kami
Dalam untaian pinta harapan
Dalam junjugan nama baik-Mu
Tetes air ini adalah hasil pengaduan hati kami

Ya Rabb…
Tiada mustahil dalam kuasa-Mu
Dekatkan kening ini di gelaran sajadah dalam memohon kedekatan-Mu
Mengharap impian hamba-Nya terkabul
Seruan do’a bapak ibu tak pernah terkuras untuk darah daginginya
Impian itu bukan sebagai pembeban kami ya Allah
Impian itu harapan membahagiakan rohani kami di dunia-Mu yang sementara ini
Impian yang tak cukup untuk diri sendiri, ini impian kami semua
Impian di jalan-Mu

Ya Ilah
Tiada lain yang ku sembah selain Engkau
Tiada cuma Kau hadirkan hamba-Mu ini dalam titipan dunia fana selain sembah dan mohonku pada Ilah
Harapku letakkanlah hamba-Mu di jalan-Mu
Kuatkan hatiku dalam petunjuk-Mu
Impian ini semoga tak sekedar angan belaka

Aamiin…

ATH

Advertisements

Dibalik Nama

Nama adalah sebuah bentuk sebutan atau lebel terhadap tiap individu yang membutuhkan. Nama itu terbentuk karena suatu gagasan dan biasanya dibalik nama itu sendiri ada arti/makna atau mungkin doa atau sebuah sejarah dan bisa pula ada suatu kebetulan.

Sekarang saya ingin berbagi cerita mengenai nama-nama dikeluarga saya. Keluargaku bisa disebut Keluarga Hikmah. Yah, karena semua anak dari orang tua saya diberi embel-embel diakhir nama yaitu Hikmah. Keluarga saya terdiri dari Bapak, Ibu, 3 anak perempuan dan yang terakhir 1 anak laki-laki. Untuk pemberian nama terhadap anak-anaknya, kedua orang tuaku cenderung terinspirasi dari bahasa arab, pemikiran-pemikiran filosof dan adat jawa.

  • Diawali nama bapak saya, yaitu Ngubaidi Achmad. Konon ceritanya orang tuanya orang tua saya (re: nenek/kakek) memberikan nama Ngubaidi karena diambil dari kata “ngabada” yang artinya ibadah. Dan bapak saya sendiri lahir ditahun Be)*. Sedangkan Achmad diambil dari bahasa arab yang artinya terpuji. Jadi arti nama bapak saya itu berupa doa supaya melakukan ibadah-ibadah yang terpuji.
  • Untuk ibu saya namanya adalah Eni Rokhayah. Sebelum mengerti arti nama ibuku yang sesungguhnya, saya pernah membaca sebuah sinopsis novel yang berjudul “Belenggu”. Disana terdapat tokoh yang bernama Eni atau dikenal juga dengan nama Rohayah. Sungguh nama yang hampir sama dengan nama ibuku namun dalam cerita tersebut tokoh itu menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan dan kehidupannya penuh konflik sosial. Meski dalam cerita tokoh itu Eni menjadi pelacur namun dia digambarkan secara simpatetis dalam suatu karya sastra Indonesia. Novel Belenggu juga menjadi novel sastra terbaik. Mungkin saja orang tua dari ibuku (re : nenek/kakek) memberikan nama ibuku Eni Rokhayah melihat dari segi positif dari novel Belenggu tersebut.
  • Untuk nama anak pertama dari keluarga saya. Yah, kakak saya yaitu Qanun Miladial Hikmah. Kata “Qanun” artinya dasar atau hukum dasar, istilah kerennya basic law lalu “Miladial” itu karena lahir pada tahun Dal)*
  • Untuk anak kedua, yah saya sendiri. Nama saya Asfira Tadwimil Hikmah. “Asfira” itu dari pembolak balikan kata Shafir atau Shafara yang artinya Perjalanan. Dan “Tadwimil” itu dari kata Tadwim yang artinya Tahun Pembukuan dan juga Dawam yang artinya menjaga atau melestarikan. “Tadwimil” juga karena saya lahir tahun Wawu)* dan secara kebetulan/ tanpa disengaja ada kata “dwi” disela-sela kata “Tadwimil” yang artinya 2 atau anak ke-2.
  • Untuk anak ketiga ada adik perempuanku yang bernama Isfria Jami’atul Hikmah. Kata “Isfria” karena adikku lahir bulan Safar sedangkan kata “Jami’atul” itu diambil dari kata Jamaah yang artinya kumpulan/ pengumpulan tetapi “Jami’atul” juga dapat diartikan Jamiilatun yang artinya cantik.
  • Dan untuk anak terakhir. Adik paling jagoan yaitu Muhammad Arabi Kafafil Hikmah. Nama yang panjang artinya pun juga panjang. Kata “Muhammad” yah semua sudah tau itu jika diambil nama dari Rasulullah saw. Untuk “Arabi” diambil dari nama seorang pemikir hebat yaitu Al Arobbi. Secara kebetulan lagi adikku ini adalah anak ke-4 jadi “Arabi” itu dapat diartikan Arba yaitu 4. “Kafafil” dari kata Kafah yaitu utuh atau sempurna atau juga cukup dan Fi artinya di dalam penuh kebijakan. Adikku ini lahir tahun Be)*
  • Dari itu semua terdapat nama akhir yaitu “Hikmah”. Disini orang tua saya memberikan nama Hikmah itu karena dapat diartikan Hakam yaitu kebijakan/ hukum. Hikmah sendiri artinya juga ilmu atau sesuatu yang bermanfaat apalagi tiap rasul diberi sebuah ilmu dan hikmah. Secara harafiah, Hikmah itu memiliki arti yang banyak.

Jadi arti nama masing-masing anak adalah

1. Qanun Miladial Hikmah : Hukum dasar dalam ilmu

2. Asfira Tadwimil Hikmah : Perjalanan pelestarian ilmu

3. Isfria Jami’atul Hikmah : Pengumpulaan ilmu-ilmu

4. Muhammad Arabi Kafafil Hikmah : Kesempurnaan di dalam penuh kebijakan/ ilmu

Sedangkan tanda )* mengartikan tahun-tahun Jawa dalam penentuan 1 Suro atau 1 Muharam. Terdapat tahun-tahunnya secara urut yaitu : Alif, Ehe, Jim awal, Ze, Dal, Be, Wawu dan Jim akhir

Pesona Desaku

Telah kita ketahui bahwa di Indonesia sudah cukup terkenal akan pesona alamnya. Tidak hanya dalam bentuk pantai, hutan dan flora fauna tapi berupa kesuburan nan eloknya pertanian dan perkebunan itu sendiri dapat diacungi jempol. Disini saya akan membahas suatu daerah di Jawa Tengah yaitu di Muntilan. Muntilan itu sendiri adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang. Muntilan terletak sekitar 10 Km dari Kota Mungkid, 15 Km dari Kota Magelang dan 25 Km dari Yogyakarta. Muntilan merupakan kota terbesar di wilayah Kabupaten Magelang. Bahkan jika dibandingkan ibukota Kabupaten di Kota Mungkid, Muntilan jauh lebih ramai dan padat penduduknya.

images (65)

Disini saya ingin membahas Muntilan karena keluarga dari bapak saya asli Muntilan. Konon kata bapak saya, Muntilan itu diambil dari bahasa inggris yaitu dari kata Mount artinya Gunung dan Land artinya Tanah. Maksudnya adalah kondisi topografi Muntilan yang dikelilingi gunung dan suburnya tanah disana. Muntilan bisa dibilang merupakan pusat pertemuan lima cincin gunung yang meliputi Merapi, Merbabu, Andong-Telomoyo, Sumbing dan pegunungan/ bukit Menoreh.

Muntilan terkenal dengan kerajinan batunya. Yah, efek banyak kali(sungai) pula, batu-batu kali itu dipahat dan ada pula yang dijadikan alat rumah tangga seperti cobek Muntilan. Pahatan paling terkenal dikawasan Prumpung dan Tejowarno. Pahatannya pun hingga diekspor ke beberapa negara Eropa. Makanan khas Muntilan hampir sama dengan di Magelang seperti gethuk, wajik, jenang, slondhok, pathil, tape ketan, kupat tahu dll

Daerah Muntilan juga dekat dengan berbagai candi. Di daerah rumah nenek saya dekat dengan Candi Ngawen. Meski candi tersebut sudah mulai runtuh akibat gempa dan letusan gunung merapi. Namun pemerintah masih dalam upaya pembangunan kembali.

Ini beberapa hasil potret saya didepan rumah nenek saya. Meski hanya menggunakan camera digital tapi dengan sedikit sentuhan editing yah cukup memuaskan lah hasilnya.

edit1

edit2

edit3

edit4

edit5

edit6

 

edit7

edit8

edit9

Saya ambil foto kebanyakan objeknya hamparan sawah dan bukit/pegunungan Menoreh. Untuk gunung Merapi hanya satu, sisanya ya persawahan. Sebenarnya fotonya banyak namun hanya ini yang saya posting 😀 hehehe lain kali akan saya potret lebih banyak lagi, yah semoga pesona desaku ini bermanfaat bagi pembaca 🙂

May Comes

Bulan ini bulan Mei. Apa yang penting? Bukan bukan penting. Apa yang spesial? Bukan bukan spesial. Terus bulan Mei bulan apa? Aku sendiri gak tau harus jelasin ini apa enggak hahaha…

Tiap tiba bulan April sama Mei, memang harus ngelus dompet bener. Gimana enggak? Banyak sahabatku yang ultah dibulan itu -_- hehehe yaa jadi mau gak mau aku hobi telat kasih kado sih hehehe. Tapi aku rasa bukan ini yang ingin ku bahas. OK cukup!

May comes. Bulan ini aku punya sebuah project. Aku menulis sebuah cerita namun via twitter yang aku beri judul “13 Hari Merajut Cerita”. Itu perjalanan selama 13 hariku dibulan Mei. Disitu aku keluarkan segala kata-kata alayku huahaha alay tapi bermakna bukan alay yang 4L4Y -__-

Kata-kata alayku itu bermakna, namun kata-kata bermaknaku belum tentu alay – Asfira, 13 Hari Merajut Cerita

Itu quote berlaku cuman waktu 13 Hari Merajut Cerita kok hehehe kalo keseharianku alay maaah emang dasarnya alay dan tanpa makna deh alayku hahaha. Rasanya menulis itu seru juga apalagi selama 13 hari itu aku hanya membahas tentang satu objek tapi selalu ada warna yang berbeda tiap harinya.

Mei ini diawali ultah kota tercinta, Semarang. Yah, 2 Mei gak cuman jadi Hari Pendidikan Nasional namun di kotaku ini, itu adalah Hari Jadi Kota Semarang. Terlalu banyak harapan untuk kota ini yang pasti harapan lebih baik kedepannya saja lah yang utama 🙂

Dilanjutkan ulang tahun sohib dan adekku pada tanggal 12 Mei. Untuk ultah sohibku, aku kerjain dia dengan kemutunganku. Tak hanya dia yang kena tapi hampir semua orang yang deket sama dia aku diemin pula. Alhasil hanya 3 hari diemin aku udah lumutan, karatan dan kadaluarsa hahaha maksudku diemin begitu “lama”nya itu gak enak banget apalagi sohib sendiri. Sohibku itu pernah ngasih quote ke aku :

Diam itu Emas!

Tapi semenjak aku kerjain sohibku itu dengan cara diemin dia, aku rasa quote-nya gak berlaku deh. Akhirnya saat aku menjadi pengucap terakhir/penutup disaat ultahnya aku memaparkan lebih tentang quote itu

Silent is a gold unless being silent with my best friend is like imitation gold. It looks calm but it’s more than painful

Mungkin iya kalau mau ngerjain sohib sendiri memang harus atur strategi yang pasti kita sendiri tidak merasa rugi. Bayangkan saja saat 3 hari aku diemin dia, aku mendapati kabar gembira dialah orang yang aku hubungi pertama tapi semua sirna karena aku harus berpegang teguh pada komitmen 3 day with silence -_- rasanya 3 hari itu MasyaAllah lamanyaaa. . .

Untuk adek terbawelku, Jami’. Dia ulang tahun ke usia 13 dan awalnya nothing special. Ya seperti biasa, perayaan kecil berupa ucapan dan pemberian kado itu rasanya sudah cukup karena memang hanya dikhususkan keluarga saja 🙂 tapi berhubung dia ultah ke-13 dan aku berinisiatif modus hehehe jadi aku buatkan kue eksklusif. Jadi hari berikutnya Senin, 13-05-13 bertepatan dengan ultah my crush aku membuatkan sebuah kue yang aku rangkap menjadi kue ultah adekku. Gimana ya menjelaskannya? Intinya aku izin buat kue bilangnya untuk adekku tapi ya emang iya cuman lebih aku khususkan kepada my crush hehehe belum lagi kebetulan ultah adekku kan udah dirayain pake kue kiriman kakak aku waktu hari Minggu 12-05-13 jadi yang di hari Senin, 13-05-13 itu merayakan kue hasil buatanku asli. Toh aku ngasih lilinnya angka 13. Buat modus di tanggal 13 dan untuk adekku di usia ke-13 hahaha… Jadi disaat semua berpikir itu kue untuk merayakan ultah adekku, aku sih berpikir itu kue untuk merayakan ultah my crush 😀

ImageImage

 

This cake was made by me (really) on Monday, 13-05-13

Aku agak jahat sih tapi gak sejahat itu juga kok. Mungkin iya hasil buatanku tidak begitu bagus, aku buat sebisa aku tapi ketika aku membawakan beberapa potong kue untuk teman-teman sekolahku, Alhamdulillah mereka suka kok. Lagipula dihari Minggu dan Senin itu kegiatan hari-hariku menterkam dan terlalu berhimpit jadi tak banyak waktu sebenarnya. Jikalau bukan demi my crush maybe i’d not cook the cake. Meski saat ultah gak ada my crush, tak menjadi alasan buatku untuk melakukan sesuatu untuknya~

May comes. Hari-hari berikutnya akan menyusul pula ultah teman-temanku lainnya dan juga kawan lamaku. Turut senang cuman kalo masalah kado, hehehe bungkam sajalah late is better than never

Real Madrid Leave With Their Heads Held High…

rmadrid37

Since Real Madrid’s shocking 4-1 defeat to Borussia Dortmund last week, every Madridista in the world was anticipating a historic comeback at the Bernabeu and today proved why everyone had belief.

The stadium was packed with the fans chanting Real Madrid’s name, the players came out ready to give everything they possibly have to make it to the final, and every fan around the world tuned in to witness a great comeback. But it wasn’t meant to be…

Early chances by Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo, and Mesut Ozil gave Real Madrid hope that they could actually accomplish this but as the first half ended 0-0, things seemed to be close to impossible. As the second half began, they came out ready to continue fighting albeit some scares from Borussia Dortmund as Robert Lewandowski had his fair share of opportunities and even hitting the crossbar in one of them. As the…

View original post 206 more words

Aku Tidak Tau Apa-Apa

Hari ini aku sedang mecuri-curi waktu, yah meski barusan pulang sekolah dan harus menjalani rutinitas “membabu” dirumah hahaha tapi aku sedang merasa jenuh. Yap, jenuh dengan aktivitas sekolah, bukannya aku tak mensyukuri jika aku bisa sekolah namun pasti setiap orang akan mengalami titik jenuh meski itu sedikit dalam segala hal yang berlebihan. Maka dari itu perlu ada refreshing sedikit lah untuk menghirup udara segar dan mengistirahatkan fisik, hati, dan pikiran.

Kali ini pembahasanku adalah apa yang aku bicarakan dengan teman sebangkuku tadi siang saat pelajaran fisika. Aku berpikir bahwa kenapa sih kita mendapat kurikulum yang membuat kita menggila yang pada akhirnya akan selalu diulang disetiap kenaikan kelas dan diperguruan tinggi. Disini cara pandangku, aku sebagai anak kelas XI jurusan IPA. Jujur, aku jenuh dengan pelajaranku akhir-akhir ini. Aku sangat belum bisa menerima segala pelajaran untuk masuk ke otakku. Bukan aku malas untuk belajar namun materi pembelajaran yang masih sulit aku terima. Jadi kalo dalam pikiranku, aku tuh mau pelajaran yang kiranya materinya bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, gak asal teori doang. Misal aja, dalam kimia apalagi pelajaranku saat ini mengenai larutan asam dan basa. Kenapa ada soal seperti 20 ml larutan HCl yang dititrasi dalam larutan 10ml… blablabla Heeei, apakah kalian pikir kita akan membuat larutan dengan setetes untuk dicampurkan. Maksud aku setetes itu karena 20 ml atau 10 ml sangat lah sedikit untuk kita praktekkan, sedih sekali jika kita hanya menghitung pengukurannya tetesan cairan itu sedangkan kita tak tau apa guna cairan itu selanjutnya. Sama halnya dengan perubahan lakmus merah jika ditetesi larutan basa dan sebagainya. Heei, kita hanya ingin mengubah warnanya cairan kita harus pusing-pusing. Ini keadaan aneh, harusnya kita dituntun juga untuk mengetahui apa kegunaan ini dalam kehidupan sehari-hari, bukan cuman praktek penghitungan dan tak tau gunanya. Contoh lainnya di matematika. Yah, waktu aku kelas X aku mendapat materi logaritma dan aku tanyakan ke guruku apa guna logaritma jika itu hampir sama dengan pemangkatan? Sedih banget guruku hanya menjawab “buka halaman depan sebelum memasuki bab itu dan disitu ada tujuannya” Parahnya sodara-sodara, tujuannya disitu hanya agar kita tau cara menghitung dan rumusan-rumusan mengenai logaritma. Bukan penerapannya pada kehidupan kita. Haduuuh… Apa guna kalau kita hanya tau teori dan tak tau untuk apa. Mungkin bisa jadi rasa penasaran seperti ini menjadi motivasi kita biar mencari tau berbagai informasi lebih tentang itu tapi gak gitu juga sih. Aku tipe orang yang dalam belajar terkadang harus mengandai-andai untuk diterapkan dikehidupanku jadi agar logika jalan juga, gak cuman asal ngitung ketemu jawaban tapi gak mudeng konsep kegunaannya. Target cuman nilai bagus dan lulus, itu menurutku salah sih. Seharusnya ada pembenahan kurikulum dan sistem pembelajarannya. Sebenarnya bagus pendidikannya Indonesia cuman ya terlalu memaksa dalam segala segi.

Hal yang dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal

Gak semua pelajaran sih yang membuatku pusing tujuh keliling. Misal aja pelajaran fisika, ketika materi rotasi dan translasi, aku bisa mengandaikan penghitungan itu diterapkan dalam roller coaster, kita diminta menghitung kecepatannya agar kalaupun tidak menggunakan sabuk pengaman kita tidak akan jatuh. Masih masuk diakal bukan? Tapi ingat gak semua pelajaran dapat dilogika dan diterima otak kita secara instan. Misal juga atom dan molekul, hal sekecil itu bagaimana kita membayangkan jika belum pernah melihatnya.

Entahlah mungkin aku yang salah dengan pendapatku ini, namun tak salah juga aku untuk berpendapat. Tiap orang punya cara pandang tersendiri. Aku masih tidak tau apa-apa akan segala hal dalam kehidupan. Aku hanya ingin perubahan yang baik dengan cara yang baik agar kedepannya semakin baik.

 

Solo itu Merah

Disaat Ujian Nasional SMA 2013 yang semakin mendekat dan aku sebagai adik kelas mendapat keringangan untuk belajar dirumah (baca: libur). Saat itu pula rencana untuk melakukan hal sesuatu pun bermunculan. Akhirnya ketika celetuk salah seorang temanku yang ingin pergi ke Solo dan ku tawarkan tempat tinggalku disana, dan akhirnya kami semua pun menyetujuinya. Padahal itu hanya sebuah lelucon belaka tapi karena rasanya itu ide bagus untuk mengisi kekosongan libur, kami pun tancap agas. Meski sesudah itu kami meminta restu dari orang tua yang konon cukup alot karena kami pergi sendiri terlepas dari orang tua, padahal rencananya 3-4 orang temanku yang akan ikut tapi yang mendapat restu Alhamdulillah 4 anak ditambah 1 anak (aku) yaah tak ada keraguan untuk mencapai status “ramai” saat di Solo nanti. Hahaha

Hari itu diawali hari Sabtu 13 April 2013 dimana semua kumpul di terminal dan menanti bus jurusan Solo. Sudah ada kenek yang menawarkan bus tapi aku sendiri sedikit bingung dengan perbedaan AC dan Patas. Okelah tanpa pikir panjang, aku naik beserta temanku lainnya. Aku memang membawa bawaan paling berat diantara teman-temanku, karena aku diharuskan membawa baju-baju jualan yang harus dikembalikan ke Solo pffft untung cuman 1 tas mudik. Kami duduk dibangku paling belakang karena berjumlah 5. Selama perjalanan we are girls who is always on fire to keep talking whatever whenever and wherever lol. Meski sedikit ada kekecewaan karena bus yang kami tumpangi tidaklah patas tapi tak mengapa lah. Lagi pula yang utama adalah sampai tujuan dengan selamat. Sampai di Solo pun jam 13.30 dan menanti jemputan oleh salah seorang om ku. Tibalah mobil jeep silver. Sedikit terpikir dibenakku dan alangkah bersyukurnya diriku jika ternyata diriku membawa 4 anak saja, mengapa? Pastilah jika lebih dari 4 anak yang kubawa mobil itu tak akan muat. Kami pun melakukan perjalanan ke rumah neneku namun sebelumnya makan siang dulu dan aku minta ke om ku untuk berkeliling ke UNS/ Universitas Sebelas Maret. Kami mengelilingi dan melihat-lihat bagian bagian fakultas disana. Sampai di rumah nenekku pun pukul 15.00 kami awalnya ingin istirahat namun melihat di halaman depan rumah alm. mbah buyutku terdapat banyak sepeda milik sepupuku, aku dan teman-temanku berinisiatif bersepeda keliling desa dan menikmati sepoi angin sore bersama sunset di sawah. SubhanAllah, indaaahnya dunia itu. Hingga menjelang maghrib kami baru pulang, sialnya ketika aku hampir sampai rumah, rantai sepedaku lepas -_- tapi tak apa. Malamnya sebenarnya kami merencanakan untuk pergi ke kota untuk menikmati suasana malam disana. Sialnya lagi, setelah kami berbersih-bersih dan rapi ria ternyata itu semua batal hanya karena cuaca berupa hujan deras yang mengguyur Solo. Sebenarnya rumah nenekku tidak lah tepat di kota Solo melainkan dekat perbatasan Solo dan Karanganyar bahkan desa nenekku masuk di daerah Karanganyar. Malam itu juga kami mengalami kesuwungan yang sangat luar biasa. Teman-temanku meminta untuk nongkrong-nongkrong tapi tak ada tempat tongkrong yang tepat. Mau di masjid? Alhasil diteras rumah nenekku kami duduk sambil membawa jajanan -_- kami mulai jenuh dan nenekku bilang jika ada pagelaran wayang di kelurahan. Celetuk temanku itu “Haruskah kita nongkrong di pagelaran wayang?” Oh itu sungguh ironi. Akhirnya aku ada ide, karena tetangga mbahku itu ada yang koleksi reptil khususnya ular. Dan sahabatku, Ninin sangatlah antusias terhadap ular, diapun meminta untuk pergi ke sana. Yang lain pun ngikut-ngikut saja tapi ternyata kami tak diperbolehkan karena suda malam. Oke di desa itu jam 8 malam bagaikan jam 12 malam. Semua lampu sudah remang remang, pintu tertutup, suasana sepi. Beda dengan kehidupanku dan teman temanku yang tinggal di Kota Semarang, seenggaknya tidak seperti di desa meski kami tidak main larut  malam. Kami memutuskan pergi keliling desa dan berjalan-jalan iseng. Hingga sampai di jalan raya utama Solo-Sragen (karena rumah nenekku dekat pula dengan jalan raya Solo-Sragen), kami melihat ada sebuah indomart di seberang jalan. Kami ingin kesana tapi tak membawa sepersenpun uang 😦 kami memutuskan pulang sejenak dan kembali ke indomart itu setelah makan malam. Selesai makan malam, tepatnya jam 10 malam kami keluyuran untuk menuju indomart itu dengan baju kaosan, celana koloran dan aku memakai roll rambut -_- parahnya sepanjang jalan benar benar sepi jikalau ada orang pun mereka meronda sepertinya dan sedikit menatap kami dengan aneh. Aku pun punya ide sebelum berangkat ke indomart. Tujuan kami ke indomart adalah membeli ice cream dan berfoto foto bersama mbak mbak indomart. Aku sudah siapkan kamera beserta uang. Sampai indomart banyak cowok-cowok renaja nongkrong dan terkesan aneh ketika melihat kami kluyuran. Kami pun masuk dan taraaa penjaga indomart itu laki-laki semua jadi inisiatif untuk berfoto dengan mbak-mbak indomart itu gagal. Kami juga gak jadi beli ice cream, kami malah beli minuman yang sangat berbeda. Aku beli kopi, Ninin beli kopi susu, Dian beli soda, Putri beli jus, Aas pun beli yogurt. Sepulang dari itu kami sempat ditegur oleh bapak-bapak disana yang lagi meronda hehehe karena kami 5 cewek kok kluyuran malem malem. Setelah itu kami bercerita ria and still on fire. Tak kenal lelah dan terus bercengkrama hingga kami meminum minuman oplosan. Eeeeits oplosannya itu dari minuman yang kita beli, dari mulai kopi, jus, soda, kopi susu, sama yogurt. Oya kami bisa rame serame ramenya rame karena kami tinggal dirumah alm. mbah buyutku jadi itu tanpa penghuni selain kami. Mana suasananya sangat mendukung dengan kegelapan dam kamar mandi di pojok dan benar-benar ujung jalan mana gelap banget. Malem itu juga kita cerita-cerita horror. Sebenernya aku gak takut akan hal seperti itu tapi semua sirna keseketika, aku jadi berubah takut banget dan semua juga takut. Hingga akhirnya kami tidur di kasur atas untuk 5 orang. Sungguh umpel umpelan banget. Kita bisa histeris sendiri coba, mana TV itu harus always ON 24 non-stop. Gilaaaa kan? Parahnya itu kita nontonnya Mister Tukul dan yang lebih parah itu adalah topik Mister Tukul itu bahas Susana. Kurang serem apa??? Dan efek minum oplosan itu kita harus buang air kecil dan tau lah, keadaan dan suasana menakutkan membuat hati tak ada nyali. Akhirnya kami ke kamar mandi berbondong bondong hahahaha. Setelah itu, akhirnya 3 anak pun tepar terlebih dahulu, aku masih bertahan bersama Ninin. Aku cerita banyak banget ke dia, apa pun kami bahas dan kami memutuskan tidur dibawah karena di kasur atas sumpek. Aku cerita melebihi panjang kereta dan mengganti channel TV jadi sepak bola agar aku dan Ninin enggak ketakutan hehehe. Jam demi jam bergulir, hingga pukul 03.00 kami tersadar

Aku : “Nin kamu ndak udah ngantuk? Kalo ngantuk tidur aja”

Ninin : “Belom kok, aku masih pengen melek, Lanjut cerita aja”

Aku :  “Oke tapi kalo ngantuk tidur aja”

Ninin : “Fir kita berangkat ke Manahan jam berapa nanti?”

Aku :  “Pagi nin jam 6”

Ninin : “Besok sampe jam berapa?”

Aku : “Sore nin… eeeeeh malem ini kan kita gak jadi nikmati suasana malem di Solo jadi kita besok sampe malem. Tidur yoook masak iya kita gak tidur sampe malem besok?”

Ninin :  “Oiya yaudah deh”

Parah ya aku dan Ninin baru tidur jam 3.30 am woooow dan diriku terbangun paginya pukul 05.30 mulai persiapan ke Manahan tapiiii Ninin masih enak terkapar di kasur. Haduuuh enaknya~ kami benar-benar harus bergegas mana keluarga bulekku sudah siap dan meminta kami untuk segera berangkat tapi sayangnya efek kemoloran orang indonesia yaaah kami pun berangkat jam 8.30 -_____- apalah jadi, masak jalan-jalan ke Manahannya kesiangan. Yasudah kami pun memulai perjalanan dan berharap disana mendapat hal yang tak tertinggal. Oh sialnya solar mobil yang kami gunakan nyaris habis karena mobilnya mobil jadul jadi harus pake solar dan disaat itu pula solar sedang habis-habisnya akhirnya kami menunda sebentar ke Manahan dan lebih mementingkan solar. Segala penjutu SPBU telah dihinggapi tapi ya Allah gak ada satu pun yang jual solar, semua habis. Karena hari sudah cukup siang dengan jam menunjukkan lebih dari jam 9, kami pun masih mencari solar. Tanpa pikir panjang karena sudah putus asa, akhirnya kami ke Stadion Manahan dengan sisa solar seadanya dan berharap nantinya para SPBU talah diisikan solar. Sesampainya di Manahan, begitu tabahnya kami bahwa Manahan DITUTUP jalan pun ditutup pula harus putar arah. Karena ada pak Ganjar yang sedang kampanya menjadi cawagub dihari itu dan dijam itu pula, para penjual Manahan pun hanya diperbolehkan jualan diluar dan daerah dalamn Manahan pun disterilkan. OK, kami masih mentoleransi dengan itu semua. Lalu kami berjalan menelusuri jajanan yang diperjualbelikan diluar. Parahnya karena Bulekku bersi kukuh ingin sarapan sup matahari kami pun harus ekstra luar biasa mengitari sepanjang jalan yang kalo diukur bisa sampai +- 3 km lah dalam keadaan LAPAR. Aku sungguh enggak tega sama temen-temen, akhirnya aku bilang ke bulekku untuk membeli makanan apapun yang kiranya bisa menangkal rasa lapar. Alhasil kami malah jajan cemilan sedikit lah yaaah buat ganjel perut. Dan akhirnya sampai diakhir penghujung bulekku tak mendapat sup matahari dan kami akhirnya makan timlo Solo ._. Terimakasih Tuhan. Disaat makan pun kami belum bisa merasakan kenikmatan karena mulailah para tim sukses dan partai PDIP yang berkampanye berhamburan diluar. Disaat itulah Soilo benar-benar merah.  Motor-motor yang suaranya aduhai merusak telinga pun membuat diri kami makin tabah. Apalagi ditambah banyaknya pengemis di Kota Solo. Oh Tuhan mengapa disaat ada teman-temanku Solo menjadi seperti ini -_-
Setelah itu kami lanjutkan perjalanan untuk mencari solar. Sebenarnya tujuan kami adalah PGS, Kraton dan Pasar Klewer. Namun lagi lagi solar tak kunjung nampak. Saat di perempatan dekat terminal Solo ada suatu kejadian dimana hari itu siang yang benar-benar menggoreng kulit kami, dimana tak ada AC dalam mobil, dimana ada kemacetan akibat mobil avansa yang mencoba menerobos lampu merah dan disaat kami ingin menyebrang kami terjebak diantara mobil-mobil dan bis disegala arah. Semua orang hanya bisa berlomba-lomba mengeraskan klakson dan emosi mereka meluap-luap tapi tak ada yang mau mengalah. Bodohnya lagi polisi tak ada satupun karena semua polisi sedang mengamankan jalan untuk kampanya di Manahan tadi. Oh Tuhan kami bagai bandeng presto siap saji yang benar-benar tinggal santap sedap kian ckckck. Akhirnya ada seseorang yang mau dan rela untuk mengalah dan akhirnya lalu lintas pun lancar kembali. Kami tetap harus hunting solar hingga akhirnya tak ada harapan aku pun meminta bulik supaya aku pergi dengan teman-temanku dengan sendirinya naik bis tapi ditemani salah seorang adek sepupuku, Qesya. Semua pun setuju, akhirnya kami turun dari mobil dan naik bis damri. Alhamdulillah kami bisa merasakan dinginnya AC bis setelah bergelut dengan panasnya Kota Solo. Konyolnya saat aku duduk di bis tiba-tiba aku mendapat telepon dari bulekku bahwa mobilnya telah terisi solar. OK kami benar-benar mensyukuri segala kejadian ini, benar-benar pengalaman yang tak terkira sama sekali, sungguh gila hahahaha. Kemudian kami pergi ke PGS dahulu. PGS adalah Pusat Grosis Solo dimana biasanya para kaum hawa mulai merasakan kebahagiaan ketika melakukan hal yang disebut dengan “shopping”. Di PGS kami hanya sebentar, naik eskalator terus turun lagi. Temen-temenku sudah mulai lelah dan tak berminat untuk shopping. Akhirnya kami memutuskan cus ke Kraton Solo. Dari PGS ke Kraton sungguhlah dekat sebelumnya kami ditawari naik becak namun kata omku gak usah soalnya deket yaudah kami pun jalan. Awalnya suasana rindang nan teduh kami rasakan tapi semua sirna ketika menyadari bahwa jikalau ingin ke kraton nan jauh (bagi kami jauh karena kami lelah) kami diharuskan melewati yang namanya alun-alun yang no trees. Ya Allah, begitu ‘indah’ rencanamu ini, disaat kondisi kami yang sudah cukup lelah karena sebelumnya kami telah berjalan jauh mengitari Manahan dan disaat keadaan kami terbakar panasnya matahari akibat kejadian siang itu, kami benar-benar terpaksa harus jalan untuk mencapai yang namanya Kraton. Sesampainya di Kraton pun kami agak dibuat bingung dengan keadaan Kraton yang tenyata terpisah-pisah dan mengharuskan kami untuk jalan (lagi). Luar binasa eh maksud saya luar biasa betul hari itu. Di Kraton pun kami juga agak kecewa karena tempat-tempat yang ingin kami kunjungi tak diizinkan untuk masuk, ada pula tempat dimana kami hanya bisa foto dengan kamera HP. Belum lagi hal sial lainnya ketika kami foto-foto dengan SLR sepupuku eh ternyata setelah dislidiki saat mau pulang ternyata SLRnya gak ada memorinya. Yaaa Tuhaaaaan. Yah untungnya kami gak banyak foto di SLR itu. Demi apapun rasanya benar-benar ingin mledak. Setelah itu kami berpencar saat pulang. Aku dan teman-temanku sedangkan omku dan Qesya pergi sendiri, kalau bulekku ke Pasar Klewer untuk “kulaan” barang-barang. Akhirnya kami harus melewati tandusnya alun-alun ditemani terik matahari yang sengat. Jalan kami sempoyongan dan benar-benar menginginkan pijat apalagi keadaanku yang super ngantuk efek begadang sama Ninin. Kami pun kelaparan dan belum sempat makan siang. Akhirnya kami membeli kerak telor dan es dawet untuk menangkal rasa lapar ini.
Sepulang dari Kraton Solo, kami tidak ke Pasar Klewer. Kami lelah kami hanya ke Serabi Notosuman setelah itu pulang dan mulai istirahat. Sampai rumah pun sore 15.30 kami juga tak ingin berjalan-jalan lagi untuk mnenikmati suasana malam Solo. Kami benar-benar teramat sangat lemah letih lesu lunglai lelah. Malamnya aku menjadi pendahulu tidur karena yah kalian tau bahwa aku sempat begadang sama Ninin dan aku hanya tidur -+2 jam doang -___- aku tertidur sangat pulas dan aku rasa teman-teman juga tidur pulas mungkin hanya Dian yang kurang nyenyak karena dia sedang flu.

Hari Senin, 15 April 2013. Hari terakhir di Solo, hal sedih tertimpa lagi, temanku Ninin sakit dan Aas juga dan aku rasa Dian flu nya makin parah pula. Sepertinya efek begadanga, kecapekan *super capek* dan tidur kedinginan mereka jadi sakit. Sungguh aku gak enak sama mereka terlebih sama orang tuanya soalnya itu kan tanggung jawabku. Masak iya pulang-pulang aku bikin sakit anak orang ya Allah tak ada maksud sama sekali. Ini diluar dugaan pula.

Hari itu rencana pergi ke Sondokoro lebih tepatnya pabrik tebu gitu di Solomadu, Karanganyar. Yah gini nih efek rumah nenek diantara Solo dan Karanganyar jadi gak jauh tapi ya gak deket yang sedang sedang saja 🙂 awalnya aku mau batalin recana itu tapi aku gak enak sama temen-temen tapi aku kasian sama Ninin. Akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan tapi bersama om dan bulekku yang lain. Sesampainya disana, sial udah kita kepagian, itu hari Senin, bukan tanggal merah pula. Sondokoro sungguh sepi, benar benar sepi. No one visits there. Cuman aku dan teman-temanku beserta bulek, om dan sepupuku. Itu sangat ironi sekali. Niatan kami tuh hanya satu, pengen naik kereta tebu terus masuk ke pabriknya tapi sedihnya keretanya gak akan jalan jika penumpangnya +- 20 orang. Woy yang bener aja sini cuman bawa 5 biji orang aja gimana jadi 20 mana itu bener-bener sepi. Sepertinya aku benar-benar salah strategi dan tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Bulek dan omku beserta sepupuku malah berenang, kami terlantar begitu saja. Dian, Aas dan Ninin hanya istirahat di gazebo. Aku dan Putri malah hunting photo hahaha -_-

Sekitar 2-3 jam kita menanti tak kunjung datang seorang pengunjung akhirnya kami hanya bisa flying fox. Jiaah flying fox ‘cetek’ yaaah pendek sangat gitulah kami naiki. Sialnya saat mau difoto waktu flying fox eh batrai kameraku habis. Oke terimakasih Tuhan. Setelah itu selagi kami menunggu sepupuku yang sudah selesai renang, kami pun ngobrol dengan penjaga flying foz. Sesosok bapak-bapak itu bertanya kenapa Ninin sama Dian gak naik flying fox? Ninin jawab sakit tapi kalau Dian entah jawab apa. Lalu bapaknya bilang kalau Ninin sakit karena kurang tidur dan kecapekan. Ya betul sih kata bapaknya, bapaknya berasa primbon aja hahaha.

Dzuhur pun tiba, rasanya sudah cukup untuk semua. Kami beres-beres dan mulai bergegas. Akhirnya ba’da Ashar kami pulang sekitar jam 15.30, pamit dengan mbah dan bulik dan om pula. Yah meski waktu di Solo kami lebih cenderung sial tapi ya kami sangat mensyukuri mungkin iya salah aku karena aku kurang merencanakan betul. Diantarkanlah kami di terminal tapi kami menunggu diluar terminal. Ternyata kesialan kami belum berakhir. Kami benar-benar menunggu bis patas datang tapi tak kunjung datang, rata-rata bis AC. Setelah menunggu begitu lamanya dan sedikit kekhawatiranku terhadap Ninin yang kian melemas, akhirnya bapak kenek yang menjaga terminal luar bilang kalau itu bis patas, kami pun naik dan ternyata oh ternyata. That was not the real patas bus, it was an AC bus. Parahnya itu bisnya penuh dan kami kekurangan tempat duduk. Akhirnya aku utamakan Ninin untuk duduk dan aku harus mengalah. Ya memang harus aku yang mengalah kan tanggung jawab diaku. Rasanya aku sangat berdosa sama temen-temen, ya cuman maaf yang bisa aku ucap ke mereka. Aku ngerasa ini semua salahku, waktu, kondisi dan suasana yang membuat kami sial. Tapi Alhamdulillah sangat, kami mendapat pengalaman yang sangat luar biasa. Mungkin banyaknya “kesialan” ini menjadi pengalaman yang unforgetable.

Beberapa koleksi potret kami di Solo :

936357_10200171859232725_95749248_n Ketika kami di Kraton Solo/ Kraton Surakarta

Ninin dengan meriam Ninin dengan meriam di Kraton

69ae86ee442bb0907b06027502437891 Ini Dian singgah di kereta kencana


 Hahaha aku mikul apa yah?

255683_10200171883633335_1049164567_n Dan ini kalemnya Aas yang orang sunda terdampar di Solo

397779_10200171866992919_128416625_n Ekspresi konyolnya Putri waktu masuk di Kraton

11885_10200171871353028_863196257_n

941811_10200171873633085_1442169805_n

Beberapa foto hari terakhir di Solo, kami berada di Sondokoro, Karanganyar. Dikarenakan beberapa teman sakit, aku dan Putri malah berfoto ria XD

216375_10200171897193674_590372213_n 65638_10200171909073971_1342280369_n  422015_10200171912994069_1429040793_n

397830_10200171929274476_2049409371_n

936199_10200171928234450_1724519285_n  Itulah tampang-tampang wajah penuh lesu dengan kesuwungan karena tak tau harus apa hahaha. Dan foto dibawah ini adalah foto 3D yang menunjukkan bahwa tidak ada kehidupan saat kami berkunjung disana -_-

486700_10200171890473506_394149693_n

Terimakasih teman-teman (Dian, Ninin, Aas, Putri) atas suka sial ceria canda tawa takut dan semuanya di 3 hari itu. Terimakasih membuat Solo benar-benar bermakna karena Solo itu Merah 🙂

Aku sangat menunggu ekspedisi kita selanjutnya!